DAMALEDO, Ebenhaezer Samuel Alprikusly (2026) MENENUN IMAN DALAM RUANG ANTARBUDAYA: SUATU KAJIAN TEOLOGI INTERKULTURAL MENURUT AGUSWATI H. RAMBE TERKAIT PEMBELAJARAN BUDAYA LOKAL DI RUMAH BELAJAR UME HALAN KAMPUNG BONEN. Masters thesis, Artha Wacana Christian University.
|
Text
I. COVER DAN PENGESAHAN.pdf Download (207kB) |
|
|
Text
II. ABSTRAK.pdf Download (86kB) |
|
|
Text
III. BAB I.pdf Download (185kB) |
|
|
Text
IV. BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (117kB) |
|
|
Text
V. BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (106kB) |
|
|
Text
VI.BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (246kB) |
|
|
Text
VII.BAB V.pdf Restricted to Registered users only Download (144kB) |
|
|
Text
VIII.BAB VI.pdf Download (94kB) |
|
|
Text
IX.DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (86kB) |
|
|
Text
X.LAMPIRAN.pdf Download (300kB) |
Abstract
Studi ini berangkat dari kegelisahan terhadap melemahnya kedekatan anak-anak dan kaum muda dengan budaya lokal di tengah pengaruh globalisasi, HP, media sosial, musik digital, dan budaya populer. Dalam konteks Kampung Bonen, Rumah Belajar Ume Halan hadir sebagai ruang komunitas yang merawat budaya lokal Timaubas melalui tenun, tari, gong, tambur, ukulele/juk, serta membuka kelas Bahasa Inggris dan keyboard. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan pemikiran teologi interkultural Aguswati H. Rambe tentang relasi iman Kristen dan budaya lokal, mengkaji pembelajaran budaya lokal di Ume Halan sebagai ruang pembelajaran iman, serta merefleksikan implikasi teologis antarbudaya bagi GMIT. Tulisan ini memakai metode kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan dipilih secara purposive karena terlibat langsung dalam kegiatan Ume Halan. Temuan menunjukkan bahwa Ume Halan menjadi ruang perjumpaan antara budaya lokal dan kebutuhan masa kini, generasi tua dan muda, rumah belajar dan gereja. Anak-anak belajar mengenal budaya, membangun disiplin, percaya diri, relasi sosial, keberanian tampil, serta keterlibatan dalam pelayanan gereja. Pembentukan iman anak juga memerlukan dukungan keluarga, gereja, dan komunitas, agar nilai ramah anak di Ume Halan dapat berdialog dengan pola didik rumah yang masih keras, patriarkal, dan feodal. Perempuan penenun mendapat ruang untuk meneruskan pengetahuan budaya dan menopang kehidupan komunitas. Dalam refleksi teologis, Galatia 3:26-29 menegaskan kesetaraan dan kebersamaan di dalam Kristus, sedangkan Markus 10:13-16 menegaskan penerimaan Yesus terhadap anak-anak. Temuan ini memperlihatkan Ume Halan sebagai rumah belajar antarbudaya yang menenun iman. Dengan memakai kerangka kontinuitas dan diskontinuitas Rambe, studi ini melihat budaya sebagai ruang yang perlu dirawat dan diuji dalam terang Injil demi pembentukan iman yang kontekstual bagi GMIT dan masyarakat Bonen.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Budaya Lokal, Diskontinuitas, Kontinuitas, Ume Halan, Teologi Interkultural. |
| Subjects: | Theology > Christian Theology |
| Divisions: | Pascasarjana > Magister > Teologi |
| Depositing User: | Mrs Skripsi Perpust |
| Date Deposited: | 30 Jul 2026 07:24 |
| Last Modified: | 30 Jul 2026 07:24 |
| URI: | http://repo-ukaw.superspace.id/id/eprint/7241 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
