FOEH, Papy J. W. (2026) UMA HADAK: Kajian Teologis Kontekstual Nilai-Nilai Uma Hadak bagi Konstruksi Eklesiologi Kontekstual di GMIT Eklesia Oehandi. Masters thesis, Artha Wacana Christian University.
|
Text
I. Cover (Cover dan Lembaran Pengesahan).pdf Download (475kB) |
|
|
Text
II. Abstrak.pdf Download (261kB) |
|
|
Text
III. Bab 1.pdf Download (340kB) |
|
|
Text
IV. Bab 2.pdf Restricted to Registered users only Download (450kB) |
|
|
Text
V. Bab 3.pdf Restricted to Registered users only Download (332kB) |
|
|
Text
VI. Bab 4.pdf Restricted to Registered users only Download (1MB) |
|
|
Text
VII. Bab 5.pdf Restricted to Registered users only Download (420kB) |
|
|
Text
VIII. Bab 6.pdf Download (388kB) |
|
|
Text
IX. Bibliografi (Daftar Pustaka).pdf Download (236kB) |
|
|
Text
X. Lampiran.pdf Download (177kB) |
Abstract
Tulisan ini mengkaji nilai-nilai filosofis, kosmologis, dan sosiologis dari rumah adat Rote (Uma Hadak) sebagai fondasi untuk mengonstruksi sebuah model eklesiologi kontekstual di Jemaat Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Eklesia Oehandi, Kabupaten Rote Ndao. Secara historis, zending kolonial cenderung menolak Uma Hadak dan melabelinya sebagai Uma Nitu (rumah setan). Di sisi lain, laju modernisasi dan program pembangunan rumah layak huni pada masa kini telah memicu krisis eksistensi arsitektur tradisional tersebut secara fisik. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode etnografi pribumi (native ethnography), peneliti memposisikan diri sebagai "orang dalam" (insider) untuk membedah struktur keruangan Uma Hadak sebagai "teks budaya" yang hidup. Kerangka teoretis yang digunakan berakar pada Model Sintetis teologi kontekstual Stephen B. Bevans serta konsep Metafora Akar dari Robert J. Schreiter, yang kemudian didialogkan secara kritis dengan paradigma teologi rumah (Oikos) Perjanjian Baru. Temuan lapangan memperlihatkan bahwa struktur triadik vertikal Uma Hadak memproyeksikan tatanan teologis ruang yang holistik. Uma Dae (lantai dasar) melambangkan fondasi duniawi yang bercorak egaliter dan inklusif. Karakteristik atapnya yang rendah menuntut gestur fisik membungkuk saat melangkah masuk, sebuah laku kultural yang diinkulturasikan secara radikal sebagai gerakan kenosis (pengosongan diri dan kerendahan hati) di hadapan sesama dan Tuhan. Uma Lai (lantai tengah) bertindak sebagai ruang domestik sakral yang merangkum siklus eksistensi manusia dari lahir hingga mati, merepresentasikan ikatan intim persekutuan (koinonia) gereja rumah. Sementara itu, Uma Mbumbutak (loteng) berfungsi sebagai lumbung pangan yang pengelolaannya dimandatkan secara eksklusif kepada kaum perempuan. Puncak atapnya dihiasi ornamen Toka dan Bohani (Lelakapa dan Lidamanu) yang menyimbolkan jaminan kesejahteraan dan perlindungan Ilahi (providentia Dei). Penelitian ini mengevaluasi dialektika gereja-adat secara kritis-profetis di bawah terang prinsip Sola Gratia, dengan menolak ritus animistis (songgo-songgo) dan komodifikasi perempuan dalam urusan belis. Sebagai sintesis teologis, tesis ini menawarkan model "Gereja sebagai Uma Hadak yang Terbuka" sebuah oikos komunal yang menghidupi spirit saling mendengar, saling mengasihi, dan saling peduli.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Uma Hadak, Eklesiologi Kontekstual, Oikos, GMIT Eklesia Oehandi, Teologi Lokal. |
| Subjects: | Theology |
| Divisions: | Pascasarjana > Magister > Teologi |
| Depositing User: | Mrs Skripsi Perpust |
| Date Deposited: | 31 Jul 2026 07:18 |
| Last Modified: | 31 Jul 2026 07:18 |
| URI: | http://repo-ukaw.superspace.id/id/eprint/7275 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
