OCTAVIANUS, Doddy Sarmento (2026) KOINONIA INTERKULTURAL SEBAGAI WUJUD GEREJA YANG AUTENTIK DALAM DIALEKTIKA PERJUMPAAN ANTAR BUDAYA: Studi Komparatif Teologi Interkultural pada Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun dan Jemaat GMIT Elim Bolok dalam Konteks GMIT. Masters thesis, Artha Wacana Christian University.
|
Text
Cover (Cover & Lembar Pengesahan).pdf Download (230kB) |
|
|
Text
Abstrak.pdf Download (9kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (143kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (108kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (197kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (265kB) |
|
|
Text
BAB V.pdf Download (128kB) |
|
|
Text
Bibliografi (Daftar Pustaka).pdf Download (76kB) |
|
|
Text
Lampiran.pdf Download (282kB) |
Abstract
Penelitian ini membahas koinonia interkultural sebagai wujud gereja yang autentik dalam dialektika perjumpaan antarbudaya pada Jemaat GMIT Lahairoi Kuanheun dan Jemaat GMIT Elim Bolok. Masalah utama penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa pembahasan tentang budaya dalam gereja sering berhenti pada simbol liturgis, pakaian adat, musik, dan perayaan budaya. Padahal, budaya juga hadir dalam sejarah jemaat, bahasa, kepemimpinan, relasi sosial, rasa memiliki, pengakuan identitas, dan pemulihan luka. Karena itu, penelitian ini membaca perjumpaan antarbudaya sebagai persoalan koinonia dalam kehidupan jemaat lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data dianalisis dengan memakai teologi interkultural, konsep in-between space, eklesiologi koinonia, dan Familia Dei GMIT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang perjumpaan antarbudaya di Kuanheun dan Elim Bolok terbentuk melalui kehidupan bergereja yang konkret, seperti ibadah, pelayanan, adat, bahasa, sejarah sosial, kepemimpinan, pengambilan keputusan, dan relasi sehari-hari. Kuanheun memperlihatkan koinonia yang relatif terawat melalui nilai lokal, gotong royong, penerimaan sosial, dan kerja bersama lintas unsur. Elim Bolok memperlihatkan dinamika relasi yang lebih kompleks, terutama berkaitan dengan narasi sejarah, bahasa, simbol budaya, rasa memiliki, dan pengakuan identitas. Talitakumi Nitneo ditempatkan sebagai konteks terkait yang memperlihatkan luka, ruang baru, dan proses pemulihan relasi. Penelitian ini merumuskan gereja yang autentik sebagai koinonia interkultural, yaitu gereja yang setia merawat persekutuan di tengah perbedaan budaya dengan memberi ruang, mendengar, mengakui, membangun keadilan relasional, mempraktikkan hospitalitas, dan mengupayakan rekonsiliasi. Dalam konteks GMIT, koinonia interkultural menjadi wujud konkret dari Familia Dei: gereja sebagai rumah bersama yang terbuka, adil, dan memulihkan. Kata kunci: Familia Dei, GMIT, Gereja Autentik, Koinonia Interkultural, Teologi Interkultural.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Familia Dei, GMIT, Gereja Autentik, Koinonia Interkultural, Teologi Interkultural. |
| Subjects: | Theology |
| Divisions: | Pascasarjana > Magister > Teologi |
| Depositing User: | Mrs Skripsi Perpust |
| Date Deposited: | 31 Jul 2026 06:23 |
| Last Modified: | 31 Jul 2026 06:23 |
| URI: | http://repo-ukaw.superspace.id/id/eprint/7273 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
