AMABI, Novy S. (2026) Implementasi Kode Etik Pendeta GMIT: Tinjauan Etika Pastoral terhadap Otoritas Pendeta di Jemaat Siloam Oebelo Kecil serta Dampaknya bagi Integritas Lembaga Gereja. Masters thesis, Artha Wacana Christian University.
|
Text
cover.pdf Download (467kB) |
|
|
Text
abstrak.pdf Download (116kB) |
|
|
Text
bab1.pdf Download (299kB) |
|
|
Text
bab2.pdf Restricted to Registered users only Download (425kB) |
|
|
Text
bab3.pdf Restricted to Registered users only Download (163kB) |
|
|
Text
bab4.pdf Restricted to Registered users only Download (286kB) |
|
|
Text
bab5.pdf Download (284kB) |
|
|
Text
lampiran.pdf Download (605kB) |
|
|
Text
daftar_pustaka.pdf Download (167kB) |
Abstract
Kode Etik Pendeta GMIT merupakan pedoman moral dan teologis yang menuntun pendeta menjalankan kehidupan dan pelayanan secara bertanggung jawab dan berintegritas. Namun, keberadaan kode etik sebagai dokumen resmi belum dengan sendirinya menjamin penerapannya dalam pelayanan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemahaman para pemangku kepentingan terhadap Kode Etik Pendeta GMIT, implementasinya dalam pelayanan pendeta, dampaknya terhadap integritas gereja, serta merumuskan refleksi etika pastoral bagi penguatan pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus di GMIT Jemaat Siloam Oebelo Kecil, Klasis Kupang Tengah. Data diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi dengan melibatkan pendeta, majelis jemaat, warga jemaat, pihak klasis dan sinode, pemerintah desa, tokoh adat, serta masyarakat. Data dianalisis secara tematik menggunakan perspektif etika pastoral Richard M. Gula dan teori implementasi kode etik Joe E. Trull dan James E. Carter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Kode Etik Pendeta GMIT masih beragam. Pendeta lebih memahaminya sebagai pedoman normatif, sedangkan majelis dan jemaat lebih menilainya melalui keteladanan, perkunjungan, komunikasi, dan hubungan pastoral. Dalam pelaksanaannya, pendeta telah melakukan penataan organisasi dan administrasi secara positif. Namun, penataan tersebut belum sepenuhnya berjalan bersama pendekatan pastoral, komunikasi, keterlibatan jemaat, dan kepekaan terhadap budaya kekeluargaan. Keadaan ini menimbulkan perbedaan persepsi mengenai penggunaan otoritas, mengganggu hubungan pelayanan, dan menurunkan kepercayaan sebagian jemaat terhadap kepemimpinan gereja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa otoritas pastoral harus dipahami sebagai panggilan untuk melayani, membangun, dan memulihkan, bukan sebagai kuasa untuk menguasai. Implementasi kode etik membutuhkan pembentukan karakter pendeta, sosialisasi kepada seluruh unsur gereja, dukungan organisasi, pendampingan pastoral, kepekaan budaya, dan penyelesaian konflik yang memberi ruang bagi pemulihan relasi. Karena itu, GMIT perlu bergerak dari kode etik sebagai aturan tertulis menuju budaya etis yang dihidupi bersama oleh pendeta, majelis, jemaat, klasis, dan sinode.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Budaya Etis, Etika Pastoral, Integritas Gereja, Kode Etik Pendeta GMIT, Otoritas Pastoral. |
| Subjects: | Theology |
| Divisions: | Pascasarjana > Magister > Teologi |
| Depositing User: | Mrs Skripsi Perpust |
| Date Deposited: | 29 Jul 2026 15:38 |
| Last Modified: | 29 Jul 2026 15:38 |
| URI: | http://repo-ukaw.superspace.id/id/eprint/7203 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
