ANALISIS SERAPAN KARBON PADA RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS STRIATUM YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE LONGLINE DI PERAIRAN DESA LIFULEO, KECAMATAN KUPANG BARAT, KABUPATEN KUPANG

ADU, Cempaka Nafsia Freemoniq (2026) ANALISIS SERAPAN KARBON PADA RUMPUT LAUT KAPPAPHYCUS STRIATUM YANG DIBUDIDAYAKAN DENGAN METODE LONGLINE DI PERAIRAN DESA LIFULEO, KECAMATAN KUPANG BARAT, KABUPATEN KUPANG. Undergraduate thesis, Artha Wacana Christian University.

[img] Text
1 HALAMAN DEPAN.pdf

Download (929kB)
[img] Text
2 RINGKASAN & SUMMARY.pdf

Download (204kB)
[img] Text
3 BAB I.pdf

Download (262kB)
[img] Text
4 BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (446kB)
[img] Text
5 BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (546kB)
[img] Text
6 BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (393kB)
[img] Text
7 BAB V.pdf

Download (246kB)
[img] Text
8 DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (214kB)

Abstract

Serapan karbon merujuk pada proses penyerapan karbon dioksida (CO₂) dari atmosfer atau perairan oleh organisme, yang kemudian disimpan dalam bentuk biomassa. Dalam konteks ekosistem pesisir, kemampuan ini dikenal sebagai blue carbon dan berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim. Rumput laut, sebagai produsen primer, menyerap karbon anorganik terlarut melalui fotosintesis dan mengubahnya menjadi karbon organik yang tersimpan dalam jaringan thallusnya. Penelitian ini menganalisis potensi serapan karbon oleh rumput laut Kappaphycus striatum yang dibudidayakan dengan metode longline di Perairan Desa Lifuleo, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang guna mengkuantifikasi kontribusi budidaya rumput laut tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari jasa lingkungannya. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Desember 2025 ini menggunakan metode observasi lapangan dan analisis laboratorium dengan pendekatan proksimat untuk mengukur kadar air, zat mudah menguap, kadar abu, dan kadar karbon. Sampel rumput laut dikategorikan berdasarkan umur thallus, yaitu thallus muda (20-35 hari) dan thallus tua (40-45 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar karbon dalam biomassa relatif stabil, dengan nilai 30,09% pada thallus muda dan 30,07% pada thallus tua. Meskipun thallus tua memiliki berat basah yang lebih tinggi, thallus muda menunjukkan proporsi biomassa kering yang lebih besar dan laju pertumbuhan relatif yang tinggi, sementara thallus tua unggul dalam akumulasi biomassa maksimal. Estimasi serapan karbon menunjukkan bahwa budidaya Kappaphycus striatum di Perairan Lifuleo mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan, dengan total serapan karbon mencapai 1,63 g C per individu pada fase tua dan 0,31 g C per individu pada fase muda. Kondisi lingkungan perairan seperti suhu, salinitas, pH, arus, dan oksigen terlarut berada dalam kisaran optimal, mendukung produktivitas rumput laut. Penelitian ini menegaskan bahwa budidaya rumput laut, selain bermanfaat secara ekonomi, juga memiliki peran ekologis penting sebagai solusi berbasis alam dalam upaya mitigasi perubahan iklim di wilayah pesisir.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Kappaphycus striatum, Serapan Karbon, Rumput Laut, Metode longline, Perairan Lifuleo.
Subjects: S Agriculture > SH Aquaculture. Fisheries. Angling
Divisions: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan > Manajemen Sumber Daya Perairan
Depositing User: Mrs Skripsi Perpust
Date Deposited: 25 Feb 2026 01:14
Last Modified: 25 Feb 2026 01:14
URI: http://repo-ukaw.superspace.id/id/eprint/6787

Actions (login required)

View Item View Item